assalamu'alaykum
wah di-apdet lagi akhirnya, ah karena masih kesel kayak di judul, langsung ajalah ya..
gw kadang (ato sering?) suka kesel dah ama orang-orang negeri ini. oke, gw sadar gw juga orang dari negeri ini. tapi, despite of that, gw kesel dengan kelakuan orang-orang yg gak sejalan dengan pemikiran gw, no offense. pada akhir tahun 2008, tepatnya 29 desember 2008, atau 1 muharram 1430 H, gw merasakan kekesalan gw yg pertama, yaitu kenapa tahun baru islam tidak dirayakan semeriah tahun baru masehi? kalo masalahnya adalah syubhat (keraguan, belum jelas dalilnya dalam Al-Qur'an atau hadis), gw malah semakin kesel karena merayakan tahun baru masehi lebih dari syubhat! kenapa, karena disitu ada tambahan ketidakjelasan dengan tindakan foya-foya, pemborosan, dan melakukan hal yg gak berguna! masih mending merayakan tahun baru islam karena gw yakin pasti dirayakan dengan isian (ceramah misalnya) yang islami! itu 500% lebih baik walau dibilang syubhat juga. dan yang paling disayangkan pula, kalau pun ada acara 1 muharram, yg dateng cuma sedikit. asli kesel banget gw! heran aja dunia dah mau kiamat gini masih aja kelakuan.. ya Allah..
trus yg kedua, pas tahun baru 2009, yg waktu itu lagi agresi militer sebuah negara kecil TOLOL yg punya koneksi kuat, persenjataan lengkap, ama rasa keBANGSATan yg besar. sedih banget gw rasanya cuma bisa bantu doa sama lewat sms kecil-kecilan. ya, bukan (belum) kapasitas gw untuk membantu secara langsung disini. dan kekesalan yg kedua adalah, ya jelas, terusan dari kesel yg pertama tadi, waktu pergantian tahun itu, rasanya setiap suara berisik yg muncul, pengen gw bunuh aja orang-orang yg mnimbulkan suara itu. kenapa, jelas! gak mikirin orang lain banget sih! ada yg lagi perang di belahan dunia sana! masih aja seneng-seneng! coba kalau kita yg lagi perang! masih bisa gak tuh kalian semua pada ketawa dan meniup terompet tolol itu! sekali lagi heran gw ama orang-orang bangsa ini. gak relevan banget gitu merayakan satu hari yg tiap tahun ada, sementara ada yg "merayakan" satu tahun yg tiap harinya ada aja diliputi rasa ketakutan! sadar donk! dah gak tau lagi gw mau ngomong apa, dah parah banget lah bangsa ini, gw cuma bisa berdoa agar perang cepat berakhir, negeri kecil TOLOL yg benderanya kayak lambang sherif itu cepat sadar akan tindakannya yg TOLOL, atau kalau gak sadar-sadar ya dimusnahin aja, en berdoa agar orang-orang bangsa ini bisa sadar supaya indonesia juga menjadi negara yg lebih baik di dua tahun baru hijriah dan masehi ini, amin..
wassalamu'alaykum
Saturday, January 03, 2009
Saturday, December 13, 2008
sudut pandang
assalamu'alaykum
setelah posting sebelumnya yg agak melo, kali ini gw akan membahas suatu fenomena yg menurut gw lumayan ribet, sudut pandang. nyok nyok
kira-kira sebulan yg lalu, gw menghadiri pernikahan seseorang (stop! jangan berpikiran yg gak-gak dulu, gw yakinkan tulisan ini bukan membahas soal ini). biasa lah prosedur hadir di pernikahan adalah mengisi buku tamu, masukin amplop, ambil "hadiah"-nya, ikut antri nyalami ke2 mempelai, dan makan-makan, nah, pas makan-makan ini, gw muter-muter nyari yg enak lah pastinya (food raiding). abis itu gw cari tempat duduk dan kebetulan dapet satu-satunya kursi kosong di deket situ yg sebelah-sebelahnya diisi sama bapak-bapak dan ibu-ibu, yg muda cuma gw doank. nah, beberapa saat kemudian, dateng seorang ibu, lagi nyari kursi kosong juga. trus, ibu ini melihat terus ke arah gw, lebih tepatnya, ke arah kursi gw. tau kan maksudnya. gw berpikir seperti ini: satu, gw lagi makan, jelas, gw gak boleh berdiri. dua, dia cuma bawa minuman, klo gak salah, minum boleh klo berdiri (KSJSS). tiga, dia gak tua-tua amat, gw taksir masih 40an, dan terlihat insya Allah masih kuat. empat, samping kiri dan kanan gw adalah ibu-ibu yg sedang asik ngobrol tanpa makanan atau minuman. jelas, jadinya gw dalam kondisi yg sangat bingung saat itu. akhirnya gw gak ngasih kursi gw. nah, mulailah sudut pandang disini berperan. dia melihat gw dengan sinis, maaf jika berprasangka buruk, tapi begitu jelasnya hal itu terlihat di mata gw. gw gak menyalahkan sudut pandang dia, juga gak membela sudut pandang gw. namun tampak disinilah suatu penjelasan, lebih tepatnya pengungkapan alasan sudut pandang masing-masing menjadi sangat penting. dan ketika akhirnya gw ingin berkata sesuatu yaitu "maaf, saya sedang makan, gak boleh berdiri blabla", seorang ibu samping gw yg tadinya ngobrol melihat ke arah gw dan ibu minuman yg berdiri tadi, dan spontan dia berdiri dan menawarkan kursinya. lalu dia berkata ke ibu minuman, "lagi makan itu, gak boleh kan". kemudian, ibu minuman berkata, "ohiyaya"..
yah, itulah sudut pandang. jika melihat dengan sudut pandang sendiri, terkadang kita buta dan akan menimbulkan judge yg salah. tetapi, jika kita mengerti sudut pandang orang lain, maka akan menjadi suatu tambahan kejelasan dalam sebuah pertimbangan, dan prasangka buruk pun dapat hilang. dan hal inilah yg susah, mengerti sudut pandang orang lain. jika kita bisa saling mengerti sudut pandang orang lain, gw rasa hidup ini akan terasa lebih mudah..
wassalamu'alaykum
setelah posting sebelumnya yg agak melo, kali ini gw akan membahas suatu fenomena yg menurut gw lumayan ribet, sudut pandang. nyok nyok
kira-kira sebulan yg lalu, gw menghadiri pernikahan seseorang (stop! jangan berpikiran yg gak-gak dulu, gw yakinkan tulisan ini bukan membahas soal ini). biasa lah prosedur hadir di pernikahan adalah mengisi buku tamu, masukin amplop, ambil "hadiah"-nya, ikut antri nyalami ke2 mempelai, dan makan-makan, nah, pas makan-makan ini, gw muter-muter nyari yg enak lah pastinya (food raiding). abis itu gw cari tempat duduk dan kebetulan dapet satu-satunya kursi kosong di deket situ yg sebelah-sebelahnya diisi sama bapak-bapak dan ibu-ibu, yg muda cuma gw doank. nah, beberapa saat kemudian, dateng seorang ibu, lagi nyari kursi kosong juga. trus, ibu ini melihat terus ke arah gw, lebih tepatnya, ke arah kursi gw. tau kan maksudnya. gw berpikir seperti ini: satu, gw lagi makan, jelas, gw gak boleh berdiri. dua, dia cuma bawa minuman, klo gak salah, minum boleh klo berdiri (KSJSS). tiga, dia gak tua-tua amat, gw taksir masih 40an, dan terlihat insya Allah masih kuat. empat, samping kiri dan kanan gw adalah ibu-ibu yg sedang asik ngobrol tanpa makanan atau minuman. jelas, jadinya gw dalam kondisi yg sangat bingung saat itu. akhirnya gw gak ngasih kursi gw. nah, mulailah sudut pandang disini berperan. dia melihat gw dengan sinis, maaf jika berprasangka buruk, tapi begitu jelasnya hal itu terlihat di mata gw. gw gak menyalahkan sudut pandang dia, juga gak membela sudut pandang gw. namun tampak disinilah suatu penjelasan, lebih tepatnya pengungkapan alasan sudut pandang masing-masing menjadi sangat penting. dan ketika akhirnya gw ingin berkata sesuatu yaitu "maaf, saya sedang makan, gak boleh berdiri blabla", seorang ibu samping gw yg tadinya ngobrol melihat ke arah gw dan ibu minuman yg berdiri tadi, dan spontan dia berdiri dan menawarkan kursinya. lalu dia berkata ke ibu minuman, "lagi makan itu, gak boleh kan". kemudian, ibu minuman berkata, "ohiyaya"..
yah, itulah sudut pandang. jika melihat dengan sudut pandang sendiri, terkadang kita buta dan akan menimbulkan judge yg salah. tetapi, jika kita mengerti sudut pandang orang lain, maka akan menjadi suatu tambahan kejelasan dalam sebuah pertimbangan, dan prasangka buruk pun dapat hilang. dan hal inilah yg susah, mengerti sudut pandang orang lain. jika kita bisa saling mengerti sudut pandang orang lain, gw rasa hidup ini akan terasa lebih mudah..
wassalamu'alaykum
Subscribe to:
Posts (Atom)